Sering kali saat akan berangkat datang masalah yang membuat perjalanan kita semakin “berwarna”
Meskipun
termasuk orang yang well prepared, tak bisa dipungkiri saya pun sering
mengalami nasib naas menjelang keberangkatan. Yah, namanya juga nasib apes,
kalau udah kejadian apa boleh baut. Biasanya sih, masalah justru datang saat
perjalanan itu bakal jadi perjalanan yang penting banget. Alhasil perjalanan
penting ditambah masalah nggak penting jadinya sesuatu banget! So, nggak ada
masalah nggak rame!
Berhubung kita biasanya lebih mempersiapkan secara baik keberangkatan ketimbang
kepulangan, maka masalah yang biasanya muncul menjelang keberangkatan lebih
kepada hal-hal yang tidak terduga. Misalnya baru-baru ini saya dan seorang
teman ada urusan yang cukup lama di Jogja. Pada awalnya semua berjalan baik,
tiket sudah dipesan jauh hari, list barang yang akan dibawa sudah disusun,
rencana dan budget perjalanan juga sudah fix. Ringkasnya, it’s too good to be
true. Masalah baru muncul seminggu sebelum keberangkatan. Entah karena terlalu
excited atau apa, saya jatuh sakit, demam pilek. Padahal saya sudah berusaha
menjaga kondisi tubuh dengan berolah raga. Untungnya nggak parah-parah amat.
Masalahnya bukan cuman saya yang sakit, teman saya pun ikutan sakit. Dan
sakitnya cukup parah. Tak hanya sebatas demam, tapi sampai batuk parah kayak
orang TBC, sepanjang dua minggu kedepan. Hadooohh... Udah kebayang deh gimana
bakal keganggunya saya jalan bareng dia.
Lain cerita saat saya mau ke Bangkok untuk pertama kalinya. Dua hari menjelang
hari H, ada masalah besar. Saya belum dapet tiket! Halah! Sambil keringetan dan
gugup saya nelpon operator maskapai dan mesti bayar tiketnya di ATM terdekat
dalam dua jam ke depan. Sialnya nggak ada ATM terdekat! Dan saya nggak ada
kendaraan, huaaa....!!! Maka saya putuskan berjalan kaki lebih kurang 2,5 km di
sore yang panas terik menuju supermarket yang ada mesin ATM nya. Penderitaan
ternyata belum berakhir, ternyata saya memakai sandal yang tidak pas di kaki
saya. Jadilah nyampe rumah kulit kaki saya lecet terkelupas karena gesekan
dengan tali sandal yang tidak nyaman. Udahlah capek jalan panas-panas, lecet
pula lagi, ohh...penderitaan. Karena ini perjalanan pertama, saya benar-benar
excited! Semalaman saya nggak bisa tidur mikirin perjalanan ini. Pikiran
benar-benar berkecamuk, bagaimana kalau saya nggak bisa survive di sana?
Ughh...insomnia tingkat berat, padahal penerbangan saya baru sore harinya dan
baru akan nyampe Bangkok malam hari. Jadi hampir seharian saya nggak tidur. Ya
Allah...
Sementara masalah yang timbul saat akan pulang seringnya hal-hal yang sudah
dapat kita perkirakan sebelumnya. Paling sering sih kalau saya masalah
kehabisan uang. Waktu akan meninggalkan Vietnam, di kantong saya cuman tersisa
duit untuk bayar taksi ke bandara dan beli sedikit makanan. Eh, sial, si supir
taksi kasih kode minta tambahan tip. Terpaksalah saya harus merelakan simpanan
terkahir saya. Dari yang tadinya masuk Vietnam berasa kaya raya karena nilai
tukar VND kurang dari setengahnya rupiah, keluar Vietnam jadi berasa paling
miskin. Huuh! Kekurangan duit di perbatasan Thailand dan Malaysia juga bikin
saya ketar-ketir. Sesampai di Hat Yai, duit Bath saya yang tersisa ternyata
hanya cukup buat transport ke Goerge Town, Penang plus uang sogok di
perbatasan. Eh?! Nyampe Penang, miris banget liat di kocek saya cuma tersisa
kepingan logam senilai 15 Bath atau sekitar 4500 rupiah! Begitu pula saat akan
meninggalkan Malaysia. Di LCCT saya udah keringat dingin takut kena denda
kelebihan bawaan kabin. Waktu mau boarding, saya melihat anak kecil di depan
saya yang ranselnya dikira-kira beratnya oleh petugas. Karena kalau terlalu
berat (melebihi 7 kg) maka itu tas harus masuk bagasi. Mesti bayar lagi. Dan
saya tidak punya uang lagi untuk itu! Waaa....mau nangis rasanya. Ajaibnya,
saya sama sekali nggak diperiksa, lolos begitu aja. Alhamdulillah, saya
langsung buru-buru ngacir menjauh dari petugas. Bahkan sisa uang yang ada saya
gunakan untuk membeli sandwich dan kopi yang sukses saya selundupkan ke dalam
pesawat, hahahaha...
Nah, yang paling tragis terjadi baru-baru ini. Ceritanya kan saya ngebolang di
Jogja selama hampir tiga bulan. Maka selama itu saya ngekost dan ngerental
motornya ibuk kost. Tibalah hari H nya saya pulang. Eh, waktu kunci kamar dan
motor mau dibalikin, deg, saya langsung pucat karena tidak menemukan STNK
motornya di dalam dompet saya. Padahal semua barang sudah di kemas dan kamar
sudah dirapikan sebelumnya. Dan pak taksi yang akan mengantar saya ke bandara
sudah menunggu! S**t!!! Nggak mungkin lagi saya bongkar koper yang udah
digembok dan menggeledah kamar di lantai dua buat nyari-nyari itu STNK. Jadilah
saya berjanji ke ibuk kost akan mencarinya setiba di Pekanbaru dan segera akan
mengirimkan STNK itu bila ditemukan. Padahal saya sudah yakin itu STNK pasti
sudah tercecer entah di mana jauh hari sebelum saya menyadarinya. Apes saya aja
baru di detik-detik terakhir akan berangkat baru nyadar. Alhasil perasaan saya
jadi nggak karuan selama perjalanan pulang. Dan yak, akhirnya dipastikan STNK
itu memang raib entah ke mana. Terpaksa deh saya harus mengganti biaya
pengurusannya. Ibuuu.....sekian
