Entah kenapa, sejak dulu saya paling malas kalau mesti berurusan dengan yang namanya birokrasi, terutama birokrasi pemerintah!
| Penting bikin pusing |
Bukannya
kenapa, tetapi sepanjang pengalaman saya, yang namanya tetek bengek urusan birokrasi
pemerintah selalu saja ada hal-hal yang bikin saya jengah. Saya nggak mau
menjelek-jelekan badan pemerintah, tapi apa yang saya alami begitulah adanya.
Mungkin ada sih yang no problem dan adem ayem urip tentrem aja, tapi apa
yang paling saya ingat tentulah yang paling berkesan. Sayangnya hal itu adalah
kesan yang kurang baik. Seperti saat saya (dengan bodohnya) kehilangan kartu
ATM dua kali dalam dua bulan belakangan ini! Parahnya, kedua-duanya adalah dari
bank yang sama! Yakni bank pemerintah terbesar setanah air (sebut saja bank M).
Dalam artian, setelah saya mengurus kehilangan yang pertama, ATM keparat itu
hilang lagi dalam jangka waktu dua bulan. Ih, sebel! Aneh, padahal di dompet saya
ada beberapa kartu ATM dari bank lainnya, semuanya juga imprit-impritan di satu
kantong yang sama. Lha kok yang ilang cuma kartu ATM bank M doang ya? Sama
sekali saya nggak tahu itu kartu raib ke mana, entah saya yang teledor, tapi
seingat saya itu kartu tidak pernah keluar dari dompet dan baru digesek dua kali
(serba dua nih ceritanya)!
Saat pertama
kali hilang, saya sudah berencana untuk sekalian menutup rekening. Tapi
mengingat ini bank besar dengan banyak merchant
dan masih ada sisa duit di rekening, maka dengan terpaksa saya mesti mengurus
perpanjangan nyawanya. Setelah bertanya pada kawan yang pernah mengalami
kejadian serupa, ternyata saya mesti membuat surat keterangan hilang terlebih
dahulu di kantor polisi. Haduehh..! Saya benci urusan di kantor polisi! Iseng-iseng
saya tanya kawan itu, adakah biaya yang dikenakan untuk surat keterangan hilang
ini? Dia mengatakan dikenakan biaya tiga puluh ribu. Jadilah saya datang ke
kantor polisi terdekat sambil bersiap dengan uang tigapuluh ribu. Karena sudah
siang menjelang sore dan kantor polisi sudah sepi, saya pun dilayani dengan
sangat cepat. Tak sampai sepuluh menit, surat saya sudah jadi. Tiba giliran
membayar, saya tanyalah polisinya, “berapa bang?” “Biasanya dua puluh ribu”.
Aih...sontak saya pun senang, dari yang tadinya saya kira tiga puluh ribu,
ternyata dapat diskon sepuluh ribu. Masa bodoh! Saya pun tancap gas ke bank
untuk mengurus kartu ATM yang baru. Di bank ternyata prosesnya cepat juga.
Tepat sebelum bank tutup, kartu ATM sialan itu pun sudah hadir kembali di
dompet saya. Cuman yang terus jadi kepikiran saat itu adalah kata “biasanya...”
itu lho, kedengaran agak janggal, eh.
Begoknya
saya, kopian surat hilang yang pertama itu saya campakkan entah ke mana,
belagak saya nggak butuh lagi. Jadilah saya kembali kelimpungan saat kehilangan
yang kedua. Ihh...masak harus ngurus surat hilang lagi? Ketemu polisi lagi? Ketemu
pegawai bank lagi? Malu dong saya, kartu ATM yang sama sampai hilang dua kali.
Tapi apa boleh baut, rasa malu terpaksa harus saya singkirkan. Kalau nggak saya
urus segera bisa barabe, saya nggak bisa tidur memikirkannya! Lagi-lagi saat di
kantor polisi saya iseng bertanya, “berapa bang?” “seikhlasnya” Lah, ini
maksudnya apa? Saya jadi sedikit penasaran. Karena sebelumnya bayar 20ribu,
maka sayapun mengeluarkan lembaran 20ribu itu sebagai harga “pasaran”nya. Eh
busyet, si polisi bilang gini ke saya waktu menerimanya “ikhlas ni ya mas?”
Owalahh...kutu kupret! Seketika langsung saya dapat menarik kesimpulan kalau
mengurus surat hilang itu sebenarnya sama sekali TIDAK BAYAR! Nggak ada tuh
yang namanya 30ribu, 20ribu, ato sejuta sekalian! Artinya, uang itu hanyalah
pelicin, kasarnya SOGOK bin SUAP! Abisnya dia ngomong kayak gitu, menimbulkan
kecurigaan! Gampangnya, basa-basi suap-menyuap. Ihh..tau gitu saya kasih 5ribu
aja kali. Sebel!
Sekali lagi
saya barusan mengalami kejadian yang bikin saya jengah dengan urusan birokrasi.
Adalah kisahnya saya mesti mengambil dokumen registrasi kerja saya yang dikirim
dari Jakarta dan saya mesti mengambilnya di Kantor Pos Pusat Pekanbaru.
Datanglah saya ke bagian antaran di Kantor Pos tersebut dan menemui seorang
bapak tua yang bertanggung jawab dengan dokumen penting ini. Dari amplop
dokumen saya lihat bahwa biaya pengiriman dokumen ini sudah ditanggung dan saya
tidak mesti mengeluarkan biaya apapun lagi, meskipun di kuitansi saya lihat
biaya pengiriman 13ribu. Saya iseng (sebenarnya menguji si bapak) dengan
bertanya “berapa pak?” Lalu si bapak dengan basa-basi yang udah kebaca sama
saya bilang “tidak ditetapkan”. Halah...!!! Kena! Ternyata mental sogok bin
suap itu masih ada. Sudah jelas-jelas tertulis tidak dipungut biaya, lha kok
masih bisa ngomong gitu?
| No additional charge, please! |
Mungkin ada yang
berpikir saya bodoh, ngapain juga disinggung-singgung. Kalau cuek aja dan
melenggang pergi begitu urusan selesai, pasti saya emang nggak mesti keluar
duit. Saya sih hanya mempertanyakan dan menguji nurani orang, apa nggak bisa
lagi membedakan mana yang hak mana
yang bathil? Padahal kalau dia jujur
tentunya dia akan bilang kalau dokumen ini nggak dipungut biaya. Kalaupun mesti
bayar, dia seharusnya langsung bilang ongkos kirimnya berapa, bukan kalimat
basa-basi tadi! Sayapun nggak mungkin mempermalukan si bapak tua dengan ngotot
nggak mau bayar dan menunjukkan bukti kalau saya nggak harus bayar. Itu sama
saja artinya memberikan tamparan di depan umum! Maka saya ikhlaskanlah duit
sekian rupiah, anggap saja sebagai jasa si bapak menjaga dokumen saya. Tapi
sekali lagi saya sadar, mental “sakit” itu pun sudah mengakar ke hal terkecil
sekalipun. Saya jadi kepikiran, apakah mereka tidak mempertanyakan
halal-haramnya apa yang mereka dapatkan?
Sekali lagi
saya bakal dihadapkan dengan kemungkinan terburuk urusan birokrasi. Pasalnya
SIM A saya sudah lama mati! Bodohnya saya baru nyadar kalau SIM itu sudah mati
jauh setelah tanggal kadaluarsanya. Ihh...sebel! Saya jadi malas ngurusnya.
Belum apa-apa sudah kebayang ribet dan mahalnya urusan nanti. Soalnya setahu
saya, kalau SIM sudah mati, prosedur urusannya seperti membuat SIM baru lagi,
Haduehh... Emang sih dulu waktu pertama kali ngurus SIM saya gampang aja,
abisnya saya pake calo (ups!!). Mau gimana lagi, yang penting cepat dan nyaman,
biar deh bayar lebih mahal, daripada bikin gondok nggak tentu juntrungan. Jadi
kepikiran buat pake jasa calo lagi. Calo oh calo...
Pernah juga
saya kesal bukan main. Ceritanya saya “hanya” membantu kawan mengurus surat
pindah kepemilikan kendaraan bermotornya. Otomatis saya hanya “mengantarkan”
surat bukti pengurusan dan “menjemput” yang baru. Eh busyet, ternyata ngurusnya
nggak segampang yang saya kira. Udah berhari-hari saya datangi kantor polisi
sambil hujan-hujanan, tuh surat belum juga selesai. Entah katanya hilanglah,
nggak ketemulah, belum ditandatanganilah. Sialan! Belakangan baru saya tahu
kalau saya dipersulit karena saya nggak pake uang pelicin. Pantesan saya lihat
banyak calo seliweran dengan duit sekian puluh ribu yang terselip di
surat-surat kepengurusan. Owalah, meskipun jelas-jelas terpampang spanduk besar
bertuliskan dilarang menggunakan calo dan tidak dipungut biaya, ternyata
polisinya sendiri yang membuat praktek percaloan itu tetap ada. Sampai saya
berpikir kalau keberadaan calo memang menolong. Menolong kemudahan dari
orang-orang yang seharusnya memberikan kemudahan untuk kita!
Lain lagi
ceritanya saat saya mengurus surat keterangan berkelakuan baik (kalau
kenyataannya brengsek gimana ya? Hihihi) saat akan masuk kuliah. Secara saat
itu saya nggak tahu gimana prosedurnya, saya dan kawan dengan semangatnya
datang ke kantor polisi. Ternyata saya mesti terlebih dahulu mendapatkan surat
pengantar dari kelurahan. Kami pun datang ke kantor lurah yang hebatnya di jam
kerja itu kosong melompong! Setelah bertemu dengan seorang staf (ibuk-ibuk),
kami diberitahu mesti menyertakan surat keterangan domisili dari RT dulu, baru
bisa dibikinin surat pengantarnya. Sialan! Kami pun mendatangi Pak RT
masing-masing untuk membuat surat domisili keparat itu. Kelar urusan surat
domisili kami kembali ke kantor lurah. Eh ternyata surat pengantar kami belum
bisa ditandatangani karena Pak Lurah tidak berada di tempat (penghalusan dari “lagi
di kedai kopi”). Jadilah kami disuruh menunggu hingga agak siang (lebih
tepatnya besok saja!).
Esoknya kami
kembali ke kantor lurah, masih dengan si ibuk nyebelin, kami diminta untuk
memfotokopi surat pengantar itu terlebih dahulu. Eh busyet, kantor sebegini
nggak ada mesin fotokopian apa? Sambil ngeles si ibuk cari alesan kalau mesin
fotokopi lagi rusak. Sontoloyo! Emang di kantor itu sama sekali nggak ada mesin
fotokopi kok! Emang kita begok, apa?! Jangankan mesin fotokopi, komputernya aja
rongsokan nggak jalan. Ihh...boong banget sih! Kami pun meluncur cari tempat
kopian yang lumayan jauh. Balik lagi, si ibu bilang harga yang mesti kami
bayarkan sekian (lebihi harga resmi!). Lantas kami pun menyerahkan lembaran
rupiah yang, parahnya, si ibuk nggak punya kembaliannya. Lagi-lagi si ibuk
kumat nyebelinnya, “kalau gitu tolong dulu deh beliin saya pepsodent di kedai
depan sekalian mecahin duit saya” (maksudnya biar ada duit kecil untuk
kembalian uang kami) sembari menyodorkan duit 50ribu. Brengsek!!! Emang kami siapanya
elu pake seenak disuruh-suruh! Udahlah selama ini ngerepotin, eh sekarang malah
bikin darah tambah mendidih. Begitu urusan di kantor selesai, kami pun pergi
dengan muka jutek dan tanpa mengucapkan terima kasih! Nyampe di kantor polisi,
kami pun disuruh nunggu sekian lama lagi hingga siang karena surat (lagi-lagi)
belum bisa ditandatangani. Lagi-lagi karena Pak Kepala Polisi lagi nggak di
tempat (mungkin lagi di kedai kopi juga, hahaha). Terakhir kami dipalak sekian
puluh ribu hingga akhirnya surat itu benar-benar selesai. Fuihh... Beruntunglah
abang saya yang baru-baru ini mengurus SKCK tidak perlu mengalami kesulitan
serupa berkat sistem yang lebih baik.
Satu-satunya
yang saya ingat tentang kemudahan urusan birokrasi adalah justru saat saya
membuat paspor. Saya beruntung karena saat itu saya masih termasuk tanggungan
di perusahaan tempat ayah saya bekerja. Urusannya benar-benar gampang karena
ada departemen perusahaan yang mengurusnya dengan profesional. Saya cukup
mengambil formulir di kantor perusahaan, mengisinya di rumah, mengembalikannya
lagi ke kantor tersebut. Terus tinggal tentuin hari kapan bisanya saya foto ke
kantor imigrasi. Tinggal bikin kesepakatan dengan biro, dateng ke kantor
imigrasi, jpret, udah, jadi. Seminggu pun paspor saya siap. Dan yang penting
semuanya gratis tis tis! Gitu deh terasa banget bedanya profesionalitas swasta
dengan pemerintah. Ehm... Sekian