Tuesday, May 29, 2012

BIROCRAZY

Entah kenapa, sejak dulu saya paling malas kalau mesti berurusan dengan yang namanya birokrasi, terutama birokrasi pemerintah!
Penting bikin pusing
Bukannya kenapa, tetapi sepanjang pengalaman saya, yang namanya tetek bengek urusan birokrasi pemerintah selalu saja ada hal-hal yang bikin saya jengah. Saya nggak mau menjelek-jelekan badan pemerintah, tapi apa yang saya alami begitulah adanya. Mungkin ada sih yang no problem dan adem ayem urip tentrem aja, tapi apa yang paling saya ingat tentulah yang paling berkesan. Sayangnya hal itu adalah kesan yang kurang baik. Seperti saat saya (dengan bodohnya) kehilangan kartu ATM dua kali dalam dua bulan belakangan ini! Parahnya, kedua-duanya adalah dari bank yang sama! Yakni bank pemerintah terbesar setanah air (sebut saja bank M). Dalam artian, setelah saya mengurus kehilangan yang pertama, ATM keparat itu hilang lagi dalam jangka waktu dua bulan. Ih, sebel! Aneh, padahal di dompet saya ada beberapa kartu ATM dari bank lainnya, semuanya juga imprit-impritan di satu kantong yang sama. Lha kok yang ilang cuma kartu ATM bank M doang ya? Sama sekali saya nggak tahu itu kartu raib ke mana, entah saya yang teledor, tapi seingat saya itu kartu tidak pernah keluar dari dompet dan baru digesek dua kali (serba dua nih ceritanya)!
Saat pertama kali hilang, saya sudah berencana untuk sekalian menutup rekening. Tapi mengingat ini bank besar dengan banyak merchant dan masih ada sisa duit di rekening, maka dengan terpaksa saya mesti mengurus perpanjangan nyawanya. Setelah bertanya pada kawan yang pernah mengalami kejadian serupa, ternyata saya mesti membuat surat keterangan hilang terlebih dahulu di kantor polisi. Haduehh..! Saya benci urusan di kantor polisi! Iseng-iseng saya tanya kawan itu, adakah biaya yang dikenakan untuk surat keterangan hilang ini? Dia mengatakan dikenakan biaya tiga puluh ribu. Jadilah saya datang ke kantor polisi terdekat sambil bersiap dengan uang tigapuluh ribu. Karena sudah siang menjelang sore dan kantor polisi sudah sepi, saya pun dilayani dengan sangat cepat. Tak sampai sepuluh menit, surat saya sudah jadi. Tiba giliran membayar, saya tanyalah polisinya, “berapa bang?” “Biasanya dua puluh ribu”. Aih...sontak saya pun senang, dari yang tadinya saya kira tiga puluh ribu, ternyata dapat diskon sepuluh ribu. Masa bodoh! Saya pun tancap gas ke bank untuk mengurus kartu ATM yang baru. Di bank ternyata prosesnya cepat juga. Tepat sebelum bank tutup, kartu ATM sialan itu pun sudah hadir kembali di dompet saya. Cuman yang terus jadi kepikiran saat itu adalah kata “biasanya...” itu lho, kedengaran agak janggal, eh.
Begoknya saya, kopian surat hilang yang pertama itu saya campakkan entah ke mana, belagak saya nggak butuh lagi. Jadilah saya kembali kelimpungan saat kehilangan yang kedua. Ihh...masak harus ngurus surat hilang lagi? Ketemu polisi lagi? Ketemu pegawai bank lagi? Malu dong saya, kartu ATM yang sama sampai hilang dua kali. Tapi apa boleh baut, rasa malu terpaksa harus saya singkirkan. Kalau nggak saya urus segera bisa barabe, saya nggak bisa tidur memikirkannya! Lagi-lagi saat di kantor polisi saya iseng bertanya, “berapa bang?” “seikhlasnya” Lah, ini maksudnya apa? Saya jadi sedikit penasaran. Karena sebelumnya bayar 20ribu, maka sayapun mengeluarkan lembaran 20ribu itu sebagai harga “pasaran”nya. Eh busyet, si polisi bilang gini ke saya waktu menerimanya “ikhlas ni ya mas?” Owalahh...kutu kupret! Seketika langsung saya dapat menarik kesimpulan kalau mengurus surat hilang itu sebenarnya sama sekali TIDAK BAYAR! Nggak ada tuh yang namanya 30ribu, 20ribu, ato sejuta sekalian! Artinya, uang itu hanyalah pelicin, kasarnya SOGOK bin SUAP! Abisnya dia ngomong kayak gitu, menimbulkan kecurigaan! Gampangnya, basa-basi suap-menyuap. Ihh..tau gitu saya kasih 5ribu aja kali. Sebel!
Sekali lagi saya barusan mengalami kejadian yang bikin saya jengah dengan urusan birokrasi. Adalah kisahnya saya mesti mengambil dokumen registrasi kerja saya yang dikirim dari Jakarta dan saya mesti mengambilnya di Kantor Pos Pusat Pekanbaru. Datanglah saya ke bagian antaran di Kantor Pos tersebut dan menemui seorang bapak tua yang bertanggung jawab dengan dokumen penting ini. Dari amplop dokumen saya lihat bahwa biaya pengiriman dokumen ini sudah ditanggung dan saya tidak mesti mengeluarkan biaya apapun lagi, meskipun di kuitansi saya lihat biaya pengiriman 13ribu. Saya iseng (sebenarnya menguji si bapak) dengan bertanya “berapa pak?” Lalu si bapak dengan basa-basi yang udah kebaca sama saya bilang “tidak ditetapkan”. Halah...!!! Kena! Ternyata mental sogok bin suap itu masih ada. Sudah jelas-jelas tertulis tidak dipungut biaya, lha kok masih bisa ngomong gitu?
No additional charge, please!
Mungkin ada yang berpikir saya bodoh, ngapain juga disinggung-singgung. Kalau cuek aja dan melenggang pergi begitu urusan selesai, pasti saya emang nggak mesti keluar duit. Saya sih hanya mempertanyakan dan menguji nurani orang, apa nggak bisa lagi membedakan mana yang hak mana yang bathil? Padahal kalau dia jujur tentunya dia akan bilang kalau dokumen ini nggak dipungut biaya. Kalaupun mesti bayar, dia seharusnya langsung bilang ongkos kirimnya berapa, bukan kalimat basa-basi tadi! Sayapun nggak mungkin mempermalukan si bapak tua dengan ngotot nggak mau bayar dan menunjukkan bukti kalau saya nggak harus bayar. Itu sama saja artinya memberikan tamparan di depan umum! Maka saya ikhlaskanlah duit sekian rupiah, anggap saja sebagai jasa si bapak menjaga dokumen saya. Tapi sekali lagi saya sadar, mental “sakit” itu pun sudah mengakar ke hal terkecil sekalipun. Saya jadi kepikiran, apakah mereka tidak mempertanyakan halal-haramnya apa yang mereka dapatkan?
Sekali lagi saya bakal dihadapkan dengan kemungkinan terburuk urusan birokrasi. Pasalnya SIM A saya sudah lama mati! Bodohnya saya baru nyadar kalau SIM itu sudah mati jauh setelah tanggal kadaluarsanya. Ihh...sebel! Saya jadi malas ngurusnya. Belum apa-apa sudah kebayang ribet dan mahalnya urusan nanti. Soalnya setahu saya, kalau SIM sudah mati, prosedur urusannya seperti membuat SIM baru lagi, Haduehh... Emang sih dulu waktu pertama kali ngurus SIM saya gampang aja, abisnya saya pake calo (ups!!). Mau gimana lagi, yang penting cepat dan nyaman, biar deh bayar lebih mahal, daripada bikin gondok nggak tentu juntrungan. Jadi kepikiran buat pake jasa calo lagi. Calo oh calo...
Pernah juga saya kesal bukan main. Ceritanya saya “hanya” membantu kawan mengurus surat pindah kepemilikan kendaraan bermotornya. Otomatis saya hanya “mengantarkan” surat bukti pengurusan dan “menjemput” yang baru. Eh busyet, ternyata ngurusnya nggak segampang yang saya kira. Udah berhari-hari saya datangi kantor polisi sambil hujan-hujanan, tuh surat belum juga selesai. Entah katanya hilanglah, nggak ketemulah, belum ditandatanganilah. Sialan! Belakangan baru saya tahu kalau saya dipersulit karena saya nggak pake uang pelicin. Pantesan saya lihat banyak calo seliweran dengan duit sekian puluh ribu yang terselip di surat-surat kepengurusan. Owalah, meskipun jelas-jelas terpampang spanduk besar bertuliskan dilarang menggunakan calo dan tidak dipungut biaya, ternyata polisinya sendiri yang membuat praktek percaloan itu tetap ada. Sampai saya berpikir kalau keberadaan calo memang menolong. Menolong kemudahan dari orang-orang yang seharusnya memberikan kemudahan untuk kita!
Lain lagi ceritanya saat saya mengurus surat keterangan berkelakuan baik (kalau kenyataannya brengsek gimana ya? Hihihi) saat akan masuk kuliah. Secara saat itu saya nggak tahu gimana prosedurnya, saya dan kawan dengan semangatnya datang ke kantor polisi. Ternyata saya mesti terlebih dahulu mendapatkan surat pengantar dari kelurahan. Kami pun datang ke kantor lurah yang hebatnya di jam kerja itu kosong melompong! Setelah bertemu dengan seorang staf (ibuk-ibuk), kami diberitahu mesti menyertakan surat keterangan domisili dari RT dulu, baru bisa dibikinin surat pengantarnya. Sialan! Kami pun mendatangi Pak RT masing-masing untuk membuat surat domisili keparat itu. Kelar urusan surat domisili kami kembali ke kantor lurah. Eh ternyata surat pengantar kami belum bisa ditandatangani karena Pak Lurah tidak berada di tempat (penghalusan dari “lagi di kedai kopi”). Jadilah kami disuruh menunggu hingga agak siang (lebih tepatnya besok saja!).
Esoknya kami kembali ke kantor lurah, masih dengan si ibuk nyebelin, kami diminta untuk memfotokopi surat pengantar itu terlebih dahulu. Eh busyet, kantor sebegini nggak ada mesin fotokopian apa? Sambil ngeles si ibuk cari alesan kalau mesin fotokopi lagi rusak. Sontoloyo! Emang di kantor itu sama sekali nggak ada mesin fotokopi kok! Emang kita begok, apa?! Jangankan mesin fotokopi, komputernya aja rongsokan nggak jalan. Ihh...boong banget sih! Kami pun meluncur cari tempat kopian yang lumayan jauh. Balik lagi, si ibu bilang harga yang mesti kami bayarkan sekian (lebihi harga resmi!). Lantas kami pun menyerahkan lembaran rupiah yang, parahnya, si ibuk nggak punya kembaliannya. Lagi-lagi si ibuk kumat nyebelinnya, “kalau gitu tolong dulu deh beliin saya pepsodent di kedai depan sekalian mecahin duit saya” (maksudnya biar ada duit kecil untuk kembalian uang kami) sembari menyodorkan duit 50ribu. Brengsek!!! Emang kami siapanya elu pake seenak disuruh-suruh! Udahlah selama ini ngerepotin, eh sekarang malah bikin darah tambah mendidih. Begitu urusan di kantor selesai, kami pun pergi dengan muka jutek dan tanpa mengucapkan terima kasih! Nyampe di kantor polisi, kami pun disuruh nunggu sekian lama lagi hingga siang karena surat (lagi-lagi) belum bisa ditandatangani. Lagi-lagi karena Pak Kepala Polisi lagi nggak di tempat (mungkin lagi di kedai kopi juga, hahaha). Terakhir kami dipalak sekian puluh ribu hingga akhirnya surat itu benar-benar selesai. Fuihh... Beruntunglah abang saya yang baru-baru ini mengurus SKCK tidak perlu mengalami kesulitan serupa berkat sistem yang lebih baik.
Satu-satunya yang saya ingat tentang kemudahan urusan birokrasi adalah justru saat saya membuat paspor. Saya beruntung karena saat itu saya masih termasuk tanggungan di perusahaan tempat ayah saya bekerja. Urusannya benar-benar gampang karena ada departemen perusahaan yang mengurusnya dengan profesional. Saya cukup mengambil formulir di kantor perusahaan, mengisinya di rumah, mengembalikannya lagi ke kantor tersebut. Terus tinggal tentuin hari kapan bisanya saya foto ke kantor imigrasi. Tinggal bikin kesepakatan dengan biro, dateng ke kantor imigrasi, jpret, udah, jadi. Seminggu pun paspor saya siap. Dan yang penting semuanya gratis tis tis! Gitu deh terasa banget bedanya profesionalitas swasta dengan pemerintah. Ehm... Sekian