Sunday, September 23, 2012

JALAN-JALAN PUASA? SIAPA TAKUT!

Sebagian traveler khususnya traveler muslim mungkin menghindari traveling di bulan puasa. Bagi saya sih no problemo...
Tetap semangat!
Apa boleh baut! Kalau cuma di waktu itu saya bisa kelayapan, ya mau gimana lagi? Dibawa enjoy aja. Gegaranya di bulan Juli kemaren saya mengikuti kegiatan sertifikasi selama hampir 2 minggu di Jakarta yang berakhir tepat 2 hari sebelum puasa. Dasar sayanya ogah rugi waktu, jauh-jauh datang ke Jakarta, kalau nggak nyempetin jalan rasanya gimanaaa gitu. Masalahnya saya sering kebablasan! Seringnya sih jalan-jalannya paling nggak seminggu, terus kadang sampai Bandung, Jogja, atau Surabaya (ini mah kelewatan bablasnya! Hihihi). Abisnya jalan sehari mana puas, nanggung nyapek-nyapekin badan dan ongkos. Kalau udah kadung jalan ya udah, hajar aja sekalian. Tapi masak sih bulan puasa masih nekat jalan? Apalagi yang namanya awal puasa, “pancaroba” ini sering dianggap berat karena tubuh belum “nyetel” dengan settingan barunya.
      Justru itulah maksud dan tujuan saya. Pengen ngerasain sensasi jalan di bulan puasa sekaligus mengenal suasana Ramadhan di tempat lain. Ibarat orang yang udah biasa pergi umroh, suatu kali pasti pengen ngerasain Ramadhan di tanah suci. Ya kalau nggak diberaniin sekarang kapan lagi? Yang penting kan niatnya. Lagipula, sejauh itu perjalanan independen, kita sendiri yang mengatur ritme perjalanan kita. Kalau capek ya nggak usah dipaksakan, atau lebih milih jalan di malam hari misalnya, ya monggo. “Capek” memang kata yang menghantui traveler kala jalan di bulan puasa. Ya iyalah, yang namanya jalan-jalan aja udah pasti capek. Puasa juga. Kalau jalan + puasa, jadinya capek banget! Apa iya segitunya? Relatif sih. Teman backpacker yang saya kabari kalau saya lagi jalan-jalan di bulan puasa kaget karena saya nekat. Alih-alih memikirkan sanggup tidaknya menjalankan ibadah puasa saat jalan-jalan (apa sebaliknya ya, jalan-jalan saat puasa?) saya malah lebih penasaran mengetahui seperti apa suasana Ramadhan di tempat yang saya datangi.
     Just my opinion, ternyata Ramadhan di pulau Jawa itu nyaris nggak berasa! Bukan capeknya yang nggak berasa, tapi suasana alias atmosfirnya yang nggak kentara. Mungkin karena di sini penduduknya lebih majemuk. Secara saya berasal dari daerah Melayu yang kental unsur keagaamannya (baca: Riau), Ramadhan di Jawa khususnya di kota-kota besarnya berasa kurang greget. Nyaris nggak ada bedanya antara bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan. Kalau di sini Ramadhan disambut dengan biasa saja, di daerah saya justru disambut dengan meriah. Tradisi balimau kasai (Minang) atau Petang Megang (Melayu Riau) alias mandi ramai-ramai di sungai jadi perayaan besar sehari menjelang puasa. Bahkan sungai Siak di Pekanbaru yang airnya butek itupun dijejali ribuan warga yang tumpah ruah. Nggak cuma mandi tapi ada juga prosesi tangkap itik dan parade perahu hias. Hebatnya lagi, acara ini mesti dihadiri Gubernur dan pejabat tinggi serta sudah masuk dalam calender event tahunan. Entahlah di Jawa ada perayaan apa pula, yang jelas saya tidak berkesempatan melihatnya.
Saya melewati hari-hari pertama puasa saya di Bandung. Boro-boro melihat suasana tenang di awal puasa, yang ada saya dibikin cukup kaget. Kalau di daerah saya awal puasa jadi semacam “off session”  dari segala aktivitas, di sini justru tetap hiruk-pikuk. Saya melihat begitu banyak saudara seiman yang tidak menjalankan ibadah puasa. Tempat-tempat makan dengan santainya buka di siang bolong. Ramai pengunjung pula. Penjaja makanan dan minuman segar tetap ramai dikerumuni pembeli yang dengan cueknya makan-minum sambil melenggang di keramaian. Para wanita juga cukup berani berbusana terbuka di tempat umum, khas Bandung tentunya. Saya memang nggak berhak menghakiminya, inilah kenyataan di Bandung. Setiap orang memang mempunyai hak untuk bagaimana dia menjalani kehidupannya, terlepas dia beriman atau tidak. Tapi sebagai orang yang mempercayai rukun iman dan rukun Islam, kita tentu sadar akan rambu-rambu yang mengatur kehidupan kita. Dan saya nggak bodoh kok untuk sekedar mengetahui mana yang Islam dan mana yang bukan.
Jogja ternyata sama saja. Berharap mendengarkan lantunan ayat suci nyaris di sepanjang waktu seperti di tempat asal saya, di sini malah saya menemukan hingar-bingar yang jauh dari nuansa Ramadhan. Musik dengan dentuman keras di sepanjang Malioboro menjadi hiburan yang happening tiap malam sementara dari corong masjid di gang-gang kecil Malioboro sayup-sayup terdengar tadarusan. Suatu ketika di dalam kereta api ekonomi Bandung-Jogja, saya melihat sepasang suami istri selesai melaksanakan sholat dzuhur. Eh, saya kaget karena setelah sholat mereka makan-minum dengan santainya. Emang sih ada yang membolehkan kita tidak berpuasa ketika dalam perjalanan atau selama menjadi musafir. But hellooo....plis deh, ini kan naik kereta doang yang nyantai banget dan nggak capek. Bukannya lo naik onta di tengah padang pasir panas berhari-hari! Masak sih kesempatan puasa di bulan Ramadhan ini dilewatin juga?
Duhh..dehidrasi ;)
Sekali lagi saya harus maklum, inilah Jogja. Kota-kota yang saya kunjungi ini menjadi contoh bahwa tingkat permissive terhadap aturan agama di daerah ini jauh lebih tinggi. Bicara toleransi, itu sih relatif banget, tergantung sudut pandang kita. Mungkin menurut orang-orang di sini toleransi adalah ketika orang-orang yang tidak ikut berpuasa dan ber-Ramadhan turut mendapatkan kebebasannya menjalankan “ketidakberpuasaan” dan “ketidakber-Ramadhan-nya” (duhh...bahasanya). Sedangkan kalau di daerah asal saya, toleransi adalah saat orang yang tidak berpuasa dan ber-Ramadhan turut merasakan dan menghormati apa yang dijalani oleh mereka yang menjalankannya. Kalau di sini orang cuek-bebek menjalankan apa yang menjadi prinsip hidupnya secara bebas, itulah toleransi. Sebaliknya, menghormati dan menghargai prinsip hidup orang lain, itulah makna toleransi di daerah asal saya.
Bukannya nggak ada yang nggak puasa di tempat asal saya, tapi mereka masih merasa cukup malu untuk memperlihatkannya di tempat umum, baik muslim maupun non-muslim. Mau buka lapak makanan di siang bolong, siap-siap aja digerebek aparat. Teman-teman non-muslim saya bahkan sangat menjaga diri mereka tatkala bergaul dengan teman yang muslim. Mereka dengan sadar nggak akan makan dan minum di hadapan yang muslim, bahkan beberapa ikut berpuasa dan berbuka bersama. Dulu waktu saya di SMA, Ramadhan jadi bulan bebas berbusana, maksudnya bebas berbusana muslim atau tertutup. Jadilah cowok-cowoknya ramai berkoko ria dan ceweknya berjilbab atau berkerudung dan tertutup. Semaraknya Ramadhan itu baru terasa ya kalau bercapek-capek puasa. Setelah siangnya sepi dari aktivitas lambung, maka sore menjelang berbuka, pasar kaget Ramadhan akan sangat hiruk-pikuk! Es cendol jadi berasa 7 kali lebih nikmat saat disantap saat berbuka ketimbang hari-hari biasa. Iya kan?! Malam yang biasanya sepi dan cepat berlalu akan berasa ramai dan panjang dengan tarawih dan tadarusan hingga larut malam.
Pernah suatu kali saat di Surabaya saya ngobrol dengan seorang supir antar kota antar provinsi. Dan dia mengeluhkan kalau saat Ramadhan di Riau adalah saat yang tidak menyenangkan buatnya, karena nyaris semua rumah makan tutup di siang hari. Aktivitas siang hari juga sepi karena kebanyakan orang menghindari berlelah-lelah. Padahal dia sendiri seorang muslim. Terserah dia berpendapat apa. Itulah relatif. Tapi coba kalau dia mau berpikir lebih, alih-alih punya sudut pandang dari orang yang tidak berpuasa dan memikirkan egonya sendiri, cobalah melihat dari sudut pandang orang yang berpuasa. Apa perasaan Anda saat anda berpuasa sementara orang lain makan-minum dan berbusana terbuka dengan santainya? Sedangkan puasa itu sendiri refleksi dari kesadaran dan penghayatan terhadap susahnya hidup orang yang kekurangan sehingga kita lebih bersyukur dan semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Lagipula saya melihat di sinilah letak keberagaman Indonesia. Mau tetap bebas makan-minum saat Ramadhan, ya tempatnya seperti yang saya sebutkan tadi. Sebaliknya, kalau mau khusyuk menjalani dan merasakan nuansa Ramadhan, (mungkin) Riau salah satu tempatnya. Impas kan?! Sekian.       

4 comments:

Kuz9 said...

keren ceritanya

Step No Stop said...

Terima kasih atas kunjungannya.. ^_^

Andy Gunawan said...

Saya pribadi setuju kalau kita wajib menghormati warga muslim yang menjalankan ibadahnya. Saya yg warga sumut dan non muslim juga bisa merasakan kemeriahan bulan puasa. Contohnya di kota Medan yang masyarakatnya sangat beragam etnis dan agamanya, secara umum sangat menghormati warga yang berpuasa. Contohnya rumah makan yang beroperasi di siang hari selalu memakai kain penutup untuk menutupi
etalasenya, inikan salah satu contoh toleransi yang sangat baik. Ini opini pribadi saya lho.

Step No Stop said...

Benar mas Andy Gunawan. Kalau saya lihat memang seperti inilah kecenderungan interaksi beragama kita di Sumatera, agak sedikit berbeda dengan di Jawa. Ibaratnya kalau di kita "saya harus memahami Anda" tapi kalau di jawa agak seperti "lo yang mesti memahami gue". Seperti itulah kira-kira.
Terima kasih atas kunjungannya.