Saturday, July 9, 2011

SURVIVAL TIPS AT LCCT

Beginilah nasib penerbangan murah, seringnya menunggu transit dengan waktu yang lama, di bandara yang jauh dari kota pula

Bagi yang doyan naik AA ke luar negeri, mestinya pernah setidaknya sekali mencicipi transit di LCCT Kuala Lumpur, bandara sentralnya maskapai AA. Meskipun terminal budget, jangan bayangkan ini terminal ecek-ecek. Terminal ini justru lebih bagus dari kebanyakan bandara di Indonesia walaupun strukturnya hanya dari rangka baja dan beton yang polos, tidak lebih. Dan yang paling penting, hampir semua fasilitas yang memadai untuk menunggu waktu transit tersedia di sini.
     Seperti pada kasus saya, saya memiliki rute perjalanan Pekanbaru-KL pada sore hari, kemudian dilanjutkan KL-Saigon malam keesokan harinya. Artinya saya punya waktu transit 24 jam! Sadis juga tuh! Sebenarnya saya bisa aja mengambil kedua penerbangan tersebut pada hari yang sama, dengan catatan begitu masuk pintu kedatangan luar negeri saya harus langsung buru-buru check in di kaunter keberangkatan luar negeri. Tetapi saya tidak mau mengambil risiko, bisa aja penerbangan saya dari Pekanbaru (kota asal saya) ditunda atau dibatalkan. Lagian, saya juga punya niat muter2 bentar di KL. Begitupun saat pulang dari Vietnam dengan jalur Hanoi-KL pada siang harinya, kemudian dilanjutkan KL-Pekanbaru sore keesokan harinya, fuihhh…. So, LCCT udah ibarat rumah bagi saya.
    Saya pikir cuma saya yang gila nunggu waktu transit segitu lamanya, ternyata eh ternyata…ada yang lebih parah lagi. Saat di LCCT saya kenalan dengan cewek asal Thailand yang akan terbang ke Paris. Sialnya, karena (banyak) kesalahan teknis sejak terbang dari Phuket-KL, dia terpaksa menunggu waktu transit selama 2 hari! Yak! Dua hari sodara-sodara! Itupun dia baru akan terbang ke Paris jam 1 dini hari. Mendengar ceritanya saya benar-benar kasihan. Untung saya dengan senang hati menjadi tempat curhat dia. Nah, dalam kondisi semacam ini sangat diperlukan survival tips agar mood, emosi, dan fisik tetap terjaga dengan baik. Jangan sampai mati gaya! Berikut saya berikan beberapa tips untuk “bertahan hidup” di LCCT dalam menunggu waktu transit yang lama khususnya bagi para traveler berkocek cekak (seperti saya) berdasarkan pengalaman saya.

1.      Sight seeing.
Jelas dong, rasanya nggak mungkin deh kalau udah di LCCT nggak mondar-mandir ke tempat ini itu, masuk ke sini situ. Ada banyak tempat yang menarik, mulai toserba, aneka resto/café waralaba, food court, toko-toko, money changer, bahkan toilet sekalipun! Nggak harus beli kok. Perhatikanlah dengan seksama segala sesuatunya demi membunuh waktu transit yang panjang. Atau kalau kamu udah bosen di LCCT kamu bisa cabut main ke Main Terminal Building KLIA-nya yang super keren dengan shuttle bus gratis untuk sight seeing lagi! He he..    
2.      Don’t worry about your luggage!
Kalau kamu bawa backpack segede bagong dan seberat detonator, pastinya kamu akan sangat tersiksa, bisa gempor tuh badan. Jangan khawatir, ambil aja troli dorong yang banyak tersedia. Kamu tinggal dorong2 trolimu ke mana aja kamu mau. Ke resto, food court, mushala, atau toilet sekalipun. Kalaupun kamu masih males mendorong-dorong troli, kamu masih bisa nitipin tas kamu di tempat penitipan. Storage luggage nya ada dua tempat, pertama di sebelah kiri dari pintu kedatangan luar negeri dengan tulisan “let me worry about your luggage”, kedua ada di terminal kedatangan dalam negeri. Meskipun harus membayar (saya tak tahu sewanya berapa), yang jelas kamu akan merasa lebih aman dan ringan, bebas bergerak ke mana aja.
3.      Eat and Drink
Ini sih tergantung selera dan budjet kamu masing-masing. Sah-sah aja kamu nyicipin makan-minum di Starbucks, Coffee Bean, Marry Brown, Mc Donald, KFC, Taste of Asia, Dunkin (mungkin) Donut, atau tempat-tempat lainnya. Tetapi sekali lagi, saya tekankan di sini adalah untuk penumpang cekak yang “ogah rugi” yang cukup puas hanya dengan pengeluaran terminim untuk bertahan hidup. Pertama soal air, belilah air minum botolan ukuran sedang (600 ml) di toserba nya. Nggak usah merek yang mahalan, cukup yang abal-abal! Harganya sekitar RM 1,5. Selanjutnya kamu nggak perlu beli lagi karena tersedia dispenser untuk refill alias isi ulang. Lokasinya di depan kaunter check in keberangkatan luar negeri. Meskipun rasanya seperti air ledeng, jangan khawatir, keamanannya terjamin kok. Toh banyak juga petugas bandara dan penumpang lain yang mengisi ulang botol minumnya di sini. Dengan demikian kamu sudah bisa hemat sekian ringgit untuk urusan air minum.
Untuk urusan makan, saya sarankan ke food court saja yang letaknya terpisah dari gedung terminal di sebelah kiri pintu kedatangan dalam negeri. Meskipun harganya tetap harga bandara (baca: mahal), setidaknya lebih murah dan pilihannya lebih bervariasi daripada resto atau café waralaba. Di food court ada lapak noodle, mixed rice, nasi Padang, beverages, dan KFC. Sayangnya, rasanya tidak begitu nendang walaupun tampilannya kelihatan begitu menggoda. Kalau ini jadi masalah, mau tak mau silahkan “kembali” ke resto waralaba yang rasanya lebih universal.
Untuk sarapan pun demikian. Tetapi bila kamu sudah cukup kenyang dengan beberapa potong roti, ada trik hematnya. Beli saja roti isi berbagai rasa yang dijual di toserba Zone, sebelah kiri lorong dari pintu kedatangan luar negeri. Harga sebungkusnya hanya RM 0,7. Makan tiga bungkus saja sudah cukup kenyang. (makan rotinya ya…bukan bungkusnya!)
4.      Tidur di mana?
Terserah kamu! Iyap, terserah kamu mau tidur di mana aja di tempat yang memungkinkan. Mau tiduran di bangku dalam gedung (cuma nggak bisa telentang karena ada palang tangan tiap kursinya) atau di luar gedung. Yang paling heboh sih tidur bergelimpangan di lantai di pojok-pojok area dalam gedung. Jangan sungkan, banyak kok bule-bule dan calon penumpang lainnya yang praktek kayak gini termasuk saya. Cuek bebek aja. Nggak ada yang larang kok. Hanya saja harus pandai-pandai milih lokasi “berhibernasi”, jangan di tempat yang berisik, jangan di tempat orang yang berlalu-lalang, jangan di tempat yang sepi sendirian. Bagi saya area sebelah kanan pintu masuk keberangkatan luar negeri adalah yang terbaik, luas, relatif tenang, dan banyak penumpang lainnya yang tiduran di sini, jadi senasib sepenanggungan.
Masalahnya baru muncul pada malam hari. Bagi saya yang sering susah tidur, gangguan sedikit saja sudah membuat mata saya sulit merem. Suara petugas bandara dari corong mikrofon yang tiap sebentar berisik sungguh mengganggu ketenangan saya, belum lagi suhu udara malam yang perlahan beranjak turun. Banyak penumpang yang mensiasatinya dengan membentangkan selimut (handuk malah!), mengenakan jaket, dan saya: pake sarung! Hihihi…
Tidur cara ini siap-siap aja mendapatkan gangguan yang tidak diinginkan, seperti saat saya dan penumpang lainnya dibangunkan petugas bandara pada jam 4 (jam 3 WIB) dan disuruh pindah ke tempat lain dengan alasan yang tak jelas. Cuih…! Saya pun akhirnya menemukan tempat yang nyaman di luar gedung bandara yakni bangku-bangku panjang tanpa palang tangan, sehingga saya bisa tidur telentang dengan membajak 4 kursi, udaranya pun tidak sedingin di dalam gedung. Itu kalau malam hari, kalau siang hari? Ada cara lebih praktis, bagi kamu yang muslim kamu bisa numpang tidur di mushala. Mushalanya ada 2, satu di dekat pemberhentian bus yang akan ke KL sentral. Saya pribadi kurang merekomendasikan tempat ini karena selain tidak ber-AC, ramai, juga lumayan berisik karena kernet bus di dekatnya sering teriak “ KL sentral….KL sentral…. Lapan ringgit…lapan ringgit…”. Nah, mushala kedua adalah yang saya rekomendasikan, yakni mushala di food court, di pojok setelah melewati KFC. Mushala ini buka mulai jam 12.30-22.00. Jadi di jam segitu kita bisa manfaatin ruangannya untuk shalat dan tiduran. Lumayan bagus, orang yang shalat di sini tidak begitu ramai, ruangannya ber-AC (jadi adem kalau siang hari), dan ada banyak sajadah yang bisa digunakan untuk alas tidur.
Kalau kamu masih ogah juga, terpaksa kamu harus merogoh kocek untuk menginap di Tune hotel di sekitar bandara. Counter check in nya tersedia di dekat pintu kedatangan luar negeri.
5.      Reading and listening
Kalau lagi nggak mau tidur, perut kenyang, tapi males jalan-jalan, pilihannya adalah membaca atau dengerin musik. Jadi bawalah cukup bahan bacaan atau Ipod dsb. Cukup efektif untuk mengusir kejenuhan. Saya tergoda untuk membeli buku di toko sebelah resto Taste of Asia, tapi urung karena harganya mahal, mulai RM 30an. Saya salut dengan buku terbitan luar, meskipun tebal tapi kertasnya super ringan, jadi enteng dibawa-bawa. Enteng dibawa, berat diharga! Cuih…!
6.      Mandi
Lama mondar-mandir seharian pasti bikin badanmu “bergetah” dan “beraroma” juga kan. You need to take a bath! Untungnya LCCT menyediakan tempat mandi shower gratis, tapi harus pandai mencarinya karena tidak di semua toilet tersedia. Yang saya temukan ada dua, pertama toilet di sebelah toserba Zon, kamar mandinya cukup luas dan ada tempat meletakkan barang/tas di dalamnya. Tempat ini yang saya gunakan. Yang kedua adalah toilet di lorong  dekat terminal kedatangan dalam negeri, di dekat money changer dan Coffee Bean. Sayangnya tempat ini kecil dan rame. Itu khusus toilet cowok lho, yang cewek saya nggak tahu, masak saya harus masuk semua toilet cewek buat ngecek! Habislah saya!
7.      Escape to KL
Ini pilihan terakhir atau bisa juga yang utama, tergantung bagaimana kamu menyikapi dan mengaturnya. Bisa saja karena kamu ogah dengan segala kesusahan dan kebosanan di LCCT atau karena kamu emang pengen jalan-jalan dulu di KL. Saya juga mencobanya, dengan catatan tidak bermalam di KL karena hitung-hitungannya lebih mahal. Cara termurah menuju KL adalah dengan Aero Bus yang banyak mangkal di pemberhentian dekat mushala menuju food court. Kalau kamu cuma transit dan bakal balik lagi ke LCCT, maka kamu mesti beli tiket return seharga RM 14. Daripada beli tiket satuan seharga RM 8, jadi lebih murah RM 2. Sebenarnya ada banyak pilihan menuju KL, busnya aja bervariasi, ada juga airport liner (kereta) juga dengan bermacam kelas. Yang membedakan tentu harga, kenyamanan, dan waktu tempuhnya, meskipun semuanya bakal berhenti di KL sentral. Nah, dari KL sentral ini kamu terserah mau ke mana dan naik apa, pilihannya banyak. Waktu tempuh dengan bus menuju KL sentral kira-kira satu jam, tergantung kepadatan lalu lintas. Perhitungkanlah waktu tempuh dan waktu jalan-jalan kamu di KL dengan matang, jangan sampai kebablasan telat check in saat kembali ke LCCT!

Demikian survival tips dari saya, semoga dapat menjadi pertimbangan bagi calon-calon penumpang (super hemat) yang akan transit di LCCT. Happy traveling!      

No comments: